Rabu, 22 Maret 2017

PENYEBAB AKI RUSAK PADA SEPEDA LISTRIK DAN SEPEDA MOTOR LISTRIK

PENYEBAB AKI RUSAK PADA SEPEDA LISTRIK DAN SEPEDA MOTOR LISTRIK


                      Aki adalah komponen paling utama dalam kendaraan listrik. Selain paling utama dalam mensuplay energi aki juga adalah komponen yang paling mahal dalam kendaraan listrik. Banyak sekali kendaraan listrik yang hanya mangkrak karena si pemilik kaget dengan harga aki. Harga aki per biji saat ini sekitar RP.400.000 an, jika dalam 36V sudah 1.2jt , jika dalam 48V maka sudah Rp1.600.000 an Memang terasa tinggi, tapi itu adalah ibarat kita membeli bahan bakar minyak (Bensin) selama 3 tahun. Wajar bukan?

sekumpulan aki rusak, karena pemakaian tidak bijak


                      Kenapa aki itu mahal?, karena setara membeli bahan bakar minyak selama 3 tahun dalam satu waktu. Maka dari itu marilah kita bijak dalam menggunakan aki, jangan sampai aki rusak kurang dari 3 tahun. Disinilah akan kita bahas apa saja penyebab aki rusak pada kendaraan listrik. Khusus nya bentuk sepeda motor listrik dan sepeda kayuh listrik.

HAL YANG MENYEBABKAN RUSAK AKI / BATERAI SOLID LEAD ACID (SLA)


1.    Kendaraan selalu digunakan untuk kebut gas full

Ngebut bukan berarti selamanya adalah kecepatan tinggi melaju di jalan raya. Istilah ngebut dalam kendaraan listrik lebih ke arah memutar gas secara full, atau memaksa kendaraan melaju sesuai batas maksimal kekuatannya.


Hal ini sangat tidak bijak kepada aki karena aki akan mengeluarkan energy amper (A) yang melebihi satuan kapasitas Amperhour (AH) nya. Maksudnya bagaimana?. Misal sepeda listrik 250W-350W merk Selis, sunrace , super rider, evergreen, dsb: kendaraan tersebut menggunaka aki kapasitas 12AH, sementara dalam kondisi gas full amper yang mengalir adalah 15-16A. Mudah dipahami, titik awal penyebab aki golongan SLA adalah penggunaan amper kerja yang terlalu besar.

Sering digunakan untuk boncengan.
Dalam satu sepeda listrik dinaiki dua orang, maka konsumsi energy listrik pun juga membutuhkan untuk mengangkut 2 orang juga. Jika sebuah motor bensin BBM digunakan sendiri maupun boncengan borosnya tidak terasa. Namun di kendaraan listrik akan sangat terasa borosnya. Efisiensi energy ketika boncengan lebih rendah daripada dinaiki sendiri. Sepeda listrik dipakai boncengan akan membuat amper kerja lebih besar hingga maksimal batas kekuatan sepeda listrik.



Sering melewati medan tanjakan
Melewati tanjakan sama hal nya membuat sepeda listrik kerja keras. Oleh karena itu wajar jika di daerah yang medannya banyak tanjakan jarang ditemui dealer/ toko sepeda listrik disana. Untuk kendaraan listrik model 250W sampai 800W memang tidak diperuntukkan melewati medan tanjakan. Lalu kalau dipaksa sering melewati tanjakan efeknya apa pada aki?. Jawabannya adalah kapasitas aki cepat habis, dan aki cepat habis pula masa pakainya. Tidak efektif kan?. So jika ada jalan lain memutar yang lebih landai, pilihlan jalan lain saja daripada melibas tanjakan.


2.    Memakai hingga kapasitas baterai habis total

Jika kita mendengar tips seperti ini:
Melakukan charging aki harus menunggu habis dulu, baru boleh di cas. Percayalah kalau itu HOAX dan SESAT untuk aki SLA kendaraan listrik.
Metode charging yang harus menungu kapasitas habis dahulu hanya berlaku untuk baterai golongan NiCd yang memiliki memory effect. Di jaman sekarang kendaraan listrik menggunakan SLA , bukan NiCd. Membuat baterai mengalami kehabisan total adalah hal yang menyebabkan aki cepat rusak, dan cepat habis masa pakai nya. Jadi selagi ada kesempatan charging, lakukan charging saja tanpa harus menunggu kapasitas habis dahulu. Tapi ingat, metode charging harus sesuai dengan poin paling bawah sendiri nanti.


Memakai sepeda listrik untuk jarak jauh dalam sekali waktu.
Mari kita menengok tentang apa itu Hour rate (Hr). Dimana sebuah aki memiliki mas efektif dihabiskan dari penuh sampai habis itu minimal berapa jam. Selengkapnya tentang apa itu Hour rate aki bisa diliha disini: Arti Kode HR pada aki kendaraan listrik.
Masa efektif aki sepeda listrik dari full lalu dipakai hingga habis minimal adalah 20 jam. Jadi kita tidak boleh menghabiskan kapasitas kurang dari 20 jam. Jika dilanggar efeknya apa?, ya aki nya cepat rusak


Melakukan perjalanan jauh dalam satu kali jalan, misal 30-60 km perjalanan. Tentu baterai akan habis hanya dalam 2-4 jam saja. Dan itu adalah perlakuan tidak baik terhadap baterai. Jikalau memang harus sering pergi jarak jauh sekali jalan, gunakanlah golongan baterai Lithium yang berani habis dalam 1 jam tanpa rusak. Dan gunakanlah kapasitas besar supaya tidak kehabisan energy di tengah perjalanan.

3.    Memakai untuk jalan, padahal kapasitas aki sudah habis.

Baterai habis tapi dipaksa untuk jalan, apa bisa ini?. Ada bahkan banyak yang melakukan ini. Sepeda listrik yang sudah kehabisan baterai hingga jalannya pelan/ patah-patah dipaksa untuk berjalan. Hanya karena atas dasar belum sampai rumah atau tempat tujuan. Ketika kita mengalami hal ini lebih baik sudahi saja yang mengendarai sepeda listrik. Segera cari colokan listrik untuk charging aki. Atau call gojek untuk untuk pulang bawa aki nya dan di cas di rumah.



Karena memaksa baterai berkerja ketika kondisi sudah habis adalah perbuatan membunuh baterai yang paling exstreem.


4.    Kendaraan listrik didiamkan dalam waktu lama, dalam kondisi baterai kosong.

Singkronisasi kelanjutan poin nomor 3. Aki yang didiamkan dalam waktu lama dan kondisi kosong memang membuat sel-sel baterai tidak sehat.  Hal ini bisa jadi berpotensi poin 3 terjadi, misal ketika mau dipakai kendaraanya tapi baterai kosong dan tetap dipaksakan untuk jalan.

Jadi kesimpulannya sehabis pakai sepeda listrik, langsung di charger tidak masalah, tidak perlu menunggu dingin dahulu.

charging menunggu dingin hanya berlaku untuk baterai lithium yang fast charging


Tips Melakukan charging yang harus menunggu baterai dingin hanya berlaku untuk golongan lithium saja, dan itupun jenis fast charging. untuk SLA tidak berlaku.  

5.    Melakukan charging dalam waktu lama sejak baterai kosong/habis.

lebih baik pakae sedikit lalu cas sebentar.
Jika ada yang mengatakan: aki kalau belum habis jangan di cas dulu nanti cepet rusak, percayalah itu HOAX untuk kendaraan listrik. Logikanya begini:

ü  Jika aki Cuma dipake sebentar maka kapasitasnya sisa nya masih banyak kan?
ü  Lalu proses charger jika kapasitas aki masih banyak, kira-kira lama tidak proses charging nya?, Cuma sebentar kan?. 20 menitan paling udah penuh
ü  Proses charger yang sebentar VS proses charger yang lama lebih adem yang mana? Lebih adem yang sebentar kan?, Cuma 20 menit, paling lama 40 menit lah tidak akan membuat baterai dan charger kerja keras.
ü  Sekarang bayangkan jika dari habis total yang butuh 6 hingga 8 jam charging, lebih panas mana coba?
ü  Lalu nungguin cas kalau 8 jam itu lama tidak? Ujung-ujung nya Cuma ditinggal tidur dan besok pagi nya aki sudah melembung semua. Aki akalau sudah melembung itu artinya rusak total, alias minta ganti baru. Jadi mahal kan?
         
          Jadi kesimpulannya disini, jika memang terpaksa melakukan charging dari baterai habis total, Sebaiknya dilakukan bertahap. Contoh jika baterai penuh dalam waktu 6 jam. Maka lakukan charging 2 jam sekalam 3 kali dalam waktu yang berbeda. Diberikan jeda dulu setiap selang 2 jam supaya aki tetep dingin. Dengan melakukan hal ini maka potensi aki melumbung lebih terminimalisir.




Overcharging= aki melembung
Aki melembung disebabkan karena suhu sel dan cairan electrolit yang panas. Sehingga menyebabkan penguapan cairan aki. Penguapan cairan yang terlalu berlebih membuat jalur katup pada aki tidak bisa menghandle. Jika katup pada aki  sudah macet dan rusak maka tekanan uap akan menekan dinding aki, Dan terjadilah melebung. Aki yang sudah melembung bisa dikatakan rusak total kondisinya. Habis masa pakai dalam seketika, ibarat tangki motor Bensin yang sudah bocor. Yang terjadi adalah aki Minta ganti baru. Jadi mari kita bijak dalam durasi masa charging , jangan terlalu lama sejak dari kosong, dan jangan overcharging.
aki yang melembung

6.    Charging yang selalu berambisi harus penuh total.

Charging yang berambisi selalu penuh total masih banyak terjadi di masyarakat. Belum mantep dan puas kalau belum penuh total. Ini adalah hal yang salah juga. Men-charging aki tidak harus berambisi full 100% , cukup kita isi 90-95% sudah bagus.



Mengandalkan lampu hijau pada automatic charger juga belum tentu aman, karena hanya charger yang kualitas bagus saja yang memiliki fitur automatic cut off yang bisa dipercaya. Untuk charger yang model cina-cina an memang tidak sepenuhnya bisa dipercaya fitur automatic cut off lampu hijau nya.


Jadi kesimpulannya gunakanlah kelas charger yang bagus, atau jika charger sudah terlanjur kualitas biasa-biasa saja maka gunakanlah timer.


SEMOGA BERMANFAAT


Salam Go Green.

0 comments:

Posting Komentar